Pembelajaran Kontekstual

4 Nov 2011

ctlPembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Sungkowo,2003:1).

Pembelajaranan kontekstual (CTL) merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pendekatan kontekstual merupakan pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas dan menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik mereka dalam berbagai tatanan kehidupan baik di sekolah maupun di luar sekolah. Selain itu siswa dilatih untuk dapat memecahkan masalah yang mereka hadapi dalam suatu situasi, misalnya dalam bentuk simulasi, dan masalah yang memang ada di dunia nyata. Dengan pendekatan kontekstual siswa belajar diawali dengan pengetahuan, pengalaman, dan konteks keseharian yang mereka miliki yang dikaitkan dengan konsep mata pelajaran yang dipelajari di kelas, dan selanjutnya dimungkinkan untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan keseharian mereka (Nurhadi,2003:7).

Penerapan CTL di Kelas
Penerapan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya adalah berikut ini.
a. Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
b. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
c. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
d. Menyiptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok).
e. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
f. Melakukan refleksi di akhir pertemuan.
g. Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

Tujuh Komponen CTL
Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama yang harus diterapkan dalam pembelajarannya (Depdiknas,2003:10). Ketujuh komponen tersebut diuraikan sebagai berikut:

Konstruktivisme (Contructivism)
Konstruktivisme (Contructivism) merupakan landasan berpikir konstruktivisme (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan
dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata (Depdiknas,2003:11).

Dalam pandangan konstruktivis, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan:
1. Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa,
2. Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan
3. Menyadarkan siswa agarmenerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
Nurhadi (2003:39) menyampaikan, penerapan pembelajaran konstruktivistik muncul dalam lima langkah pembelajaran berikut:
a. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activing knowledge).
b. Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge).
c. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge).
d. Menerapkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh (applying knowledge).
e. Melakukan refleksi (reflecting on knowledge).

Menemukan (Inquiry)
Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkan (Depdiknas,2003:13). Inquiry dibentuk dan meliputi discovery karena siswa harus menggunakan kemampuan discovery dan lebih banyak lagi, misalnya: merumuskan problem, merancang eksperimen, melakukan observasi dan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisa data, menarik kesimpulan, mempunyai sikap-sikap objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka dan sebagainya (Moh. Amien, 1987:127)

Bertanya (Questioning)
Dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk
1. Menggali informasi, baik administrasi maupun akademis
2. Mengecek pemahaman siswa
3. Membangkitkan respon kepada siswa mengetahui sejauhmana
keingintahuan siswa
4. Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa
5. Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
6. Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
7. Untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dengan orang lain (Sungkowo,2003:15).

Pemodelan (Modeling)
Maksudnya dalam sebuah pembelajaran ketrampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru.

Refleksi (Reflection)

Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya (Sungkowo,2003:18). Refleksi diperlukan karena pengetahuan harus dikontekstualkan agar sepenuhnya dipahami dan diterapkan secara luas (Nurhadi,2003:40).

Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessment)

Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa untuk memastikan bahwa siswa mengalami proses belajar yang benar. Gambaran tentang kemajuan belajar siswa diperlukan di sepanjang proses pembelajaran maka assessment tidak dilakukan di akhir periode, tetapi dilakukan bersamaan dengan proses pembelajaran. Karakteristik Autentic Assessment:
1. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
2. Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
3. Yang diukur ketrampilan dan perfomansi, bukan mengingat fakta
4. Berkesinambungan
5. Terintegrasi
6. Dapat digunakan sebagai feed back.


TAGS


-

Author

Follow Me


Archive