Menghitung Arah Kiblat

1 Jan 2012

Penghitungan Arah Kiblat

Penentuan arah kiblat pada hakikatnya adalah menentukan posisi Kakbah dari suatu tempat di permukaan bumi, atau sebaliknya. Tempat-tempat yang dekat dengan Kakbah di mana orang menunaikan salat di tempat itu dapat langsung menyaksikan Kakbah tentu tidak perlu menentukan arah kiblatnya terlebih dahulu. Baik tempat salat maupun Kakbah berada di permukaan bumi, padahal bumi bentuknya bulat mirip bola, maka dalam menentukan posisi Kakbah dari tempat salat itu harus diberlakukan ketentuan-ketentuan, konsep-konsep, atau hukum-hukum yang berlaku pada
bola.

Arah dari suatu tempat ke tempat lain di permukaan bumi ditunjukkan oleh busur lingkaran terpendek yang melalui atau menghubungkan kedua tempat tersebut. Busur lingkaran yang dapat menghubungkan dua tempat di permukaan bola, termasuk di permukaan bumi, ada dua macam, lingkaran besar dan lingkaran kecil. Busur dengan jarak yang terpendek adalah busur yang melalui lingkaran besar.

Dengan penjelasan di atas dapat dinyatakan bahwa arah kiblat adalah arah yang ditunjukkan oleh busur lingkaran besar pada permukaan bumi yang menghubungkan tempat salat dengan Kakbah.

1 . Geometri Arah Kiblat
Sebagaimana disebutkan di muka, penentuan arah kiblat adalah penentuan arah di permukaan bumi. Karena bumi
berbentuk bola berarti menentukan arah di permukaan bola. Jika titik Kakbah dan titik tempat salat dihubungkan dengan titik Kutub Utara (KU) melalui busur-busur lingkaran besar, maka akan terbentuklah sebuah segitiga dengan tiga titik sudutnya: Kutub Utara, tempat salat, dan Kakbah; sedang sisi-sisinya adalah busur meridian Kakbah, meridian tempat salat, dan busur arah kiblat.Segitiga yang terbentuk itu adalah segitiga bola karena ketiga sisinya
merupakan busur dari lingkaran besar. Karena segitiga bola ini terkait dengan arah kiblat maka katakanlah Segitiga Bola Arah Kiblat. Perhatikan gambar berikut,

bola-langit

Sebagaimana terlihat pada gambar di atas, arah kiblat dimaksud adalah arah busur BA. Bagaimana cara mengetahui arah busur BA tersebut? Caranya adalah dengan mengetahui terlebih dahulu sudut ABC. Sudut ABC ini adalah sudut Arah Kiblat. Perhatikan gambar di bawah,

bola-langit-1

Untuk menghitung besaran sudut ABC dapat digunakan rumus:

rumus-arah-kiblat

Dengan diketahui besaran sudut ABC maka diketahuilah arah busur BA, karena busur BC menunjuk arah utara selatan sejati.
2 . Cara Mengukur Arah Kiblat

Secara historis cara penentuan arah kiblat di Indonesia mengalami perkembangan sesuai dengan kualitas dan kapasitas intelektual di kalangan kaum muslimin. Perkembangan penentuan arah kiblat ini dapat dilihat dari perubahan besar yang dilakukan Muhammad Arsyad al-Banjari dan K.H. Ahmad Dahlan atau dapat dilihat pula dari alat-alat yang dipergunakan untuk mengukurnya, seperti miqyas, tongkat istiwa, rubu mujayyab, kompas, dan teodolit

Selain itu sistem perhitungan yang dipergunakan mengalami perkembangan pula, baik mengenai data koordinat maupun mengenai sistem ilmu ukurnya.

Pada saat ini metode yang sering digunakan dalam pengukuran arah kiblat ada tiga macam, yakni: (1) memanfaatkan bayang-bayang kiblat, (2) memanfaatkan arah utara geografis (true north), dan (3) mengamati/ memperhatikan ketika matahari tepat berada di atas Kakbah. Bila menggunakan metode bayang-bayang kiblat maka langkah-langkah yang perlu ditempuh, yaitu: (a) menghitung sudut arah kiblat suatu tempat, (b) menghitung saatkapan matahari membuat bayang-bayang setiap benda (tegak) mengarah persis ke Kakbah, dan (c) mengamati bayang-bayang benda tegak pada saat sepert i dimaksud poin (b). Kemudian mengabadikan bayang-bayang tersebut sebagai arah kiblat. Adapun jika menggunakan metode memanfaatkan arah utara geografis langkah-langkah yang perlu ditempuh, yaitu: (a) menghitung sudut arah kiblat suatu tempat, (b) menentukan arah utara geografis (baca : true north) dengan bantuan kompas, tongkat istiwa atau teodolit , dan (c) mengukur/ menarik arah kiblat berdasarkan arah geografis seperti dimaksud pada poin (b) dengan menggunakan busur derajat, rubu, segitiga, atau teodolit.
Data yang dibutuhkan dalam proses perhitungan arah kiblat, antara lain: lintang tempat (?), bujur tempat (?), lintang Kakbah (?k) dan bujur Kakbah (?k). Untuk lintang dan bujur tempat telah tersedia. Hanya saja daftar tersebut perlu diverifikasi dengan alat kontemporer.

Sementara itu, metode ketiga dapat dilakukan oleh setiap orang dan merupakan cara yang paling sederhana dan bebas hambatan. Metode ket iga ini dapat dilakukan, tanpa harus mengetahui koordinat (lintang dan bujur) tempat yang akan dicari arah kiblatnya, tetapi cukup menunggu kapan saatnya posisi matahari tepat berada di atas Kakbah.
Posisi matahari tepat berada di atas Kakbah akan terjadi ketika lintang Kakbah sama dengan deklinasi matahari, pada saat itu matahari berkulminasi tepat di atas Kakbah. Kesempatan tersebut datang pada setiap tanggal 28 Mei (Kadang-kadang terjadi pada tanggal 27 Mei untuk tahun kabisat) pukul 12.18 waktu Mekah atau 09.18 UT dan tanggal 16 Juli (tahun pendek) atau 15 Juli (tahun kabisat) pukul 12.27 waktu Mekah atau 09.27 UT.

Posisi matahari tepat berada di atas Kakbah akan terjadi ketika lintang Kakbah sama dengan deklinasi matahari, pada saat itu matahari berkulminasi tepat di atas Kakbah. Kesempatan tersebut datang pada setiap tanggal 28 Mei (Kadang-kadang terjadi pada tanggal 27 Mei untuk tahun kabisat) pukul 12.18 waktu Mekah atau 09.18 UT dan tanggal 16 Juli (tahun pendek) atau 15 Juli (tahun kabisat) pukul 12.27 waktu Mekah atau 09.27 UT.
Bila waktu Mekah dikonversi menjadi waktu Indonesia Barat (WIB) maka harus ditambah dengan 4 jam sama dengan pukul 16.18 WIB dan 16.27 WIB. Oleh karena itu, setiap tanggal 28 Mei (untuk tahun pendek) atau 27 Mei (untuk tahun kabisat) pukul 16.18 WIB arah kiblat dapat dicek dengan mengandalkan bayangan matahari yang tengah berada di atas Kakbah. Begitu pula setiap tanggal 16 Juli (untuk tahun pendek) atau 15 Juli (untuk tahun kabisat) juga dapat dilakukan pengecekan arah kiblat dengan metode tersebut.

Dalam praktiknya, tidak perlu langkah yang rumit untuk menentukan arah kiblat berdasar jatuhnya bayangan benda yang disinari matahari. Pengamat (observer) cukup menggunakan tongkat atau benda lain sejenis untuk diletakkan di tempat yang memperoleh cahaya matahari. Permukaan yang akan ditempati bayangan harus datar dan rata. Cahaya matahari yang menyinari benda tersebut akan menghasilkan bayangan. Arah bayangan ini
merupakan arah kiblat.

arah-kiblat

Bila waktu Mekah dikonversi menjadi waktu Indonesia Barat (WIB) maka harus ditambah dengan 4 jam sama dengan pukul 16.18 WIB dan 16.27 WIB. Oleh karena itu, setiap tanggal 28 Mei (untuk tahun pendek) atau 27 Mei (untuk tahun kabisat) pukul 16.18 WIB arah kiblat dapat dicek dengan mengandalkan bayangan matahari yang tengah berada di atas Kakbah. Begitu pula setiap tanggal 16 Juli (untuk tahun pendek) atau 15 Juli (untuk tahun kabisat) juga dapat dilakukan pengecekan arah kiblat dengan metode tersebut.

Secara lengkap dapat dibaca disini

Download Buku Cara Menghitung Arah Kiblat

Sumber ; Pedoman Hisab Muhammadiyah


TAGS kiblat


-

Author

Follow Me


Archive